๐ฌ๐ง English ๐ก Klik kata apa saja untuk melihat terjemahan โฅ
Learn
Before we open our mouths, we ought to open our minds.
As busy as he was, even President Obama took time to make sure he knew what he was talking about, especially before major speeches.
While working on his address accepting the Nobel Peace Prize, he read the speeches of wartime presidents and prime ministers and the writings of Gandhi, Martin Luther King, Jr., and the theologian Reinhold Niebuhr โsome of whom he referred to in his speech.
"It was as if he were having a conversation with everyone who had spoken on the same issues in the past," said Ben Rhodes.
Exolent Course
Hal. 246
๐ฎ๐ฉ Bahasa Indonesia โฅ
Belajar
Sebelum kita membuka mulut, kita seharusnya membuka pikiran kita.
Sesibuk apa pun dirinya, bahkan Presiden Obama tetap meluangkan waktu untuk memastikan ia memahami apa yang ia bicarakan, terutama sebelum pidato-pidato penting.
Saat menggarap pidato penerimaan Hadiah Nobel Perdamaiannya, ia membaca pidato-pidato presiden dan perdana menteri masa perang serta tulisan-tulisan Gandhi, Martin Luther King, Jr., dan teolog Reinhold Niebuhr โbeberapa di antaranya ia sebut dalam pidatonya.
"Rasanya seperti ia sedang bercakap-cakap dengan semua orang yang pernah bicara soal isu yang sama di masa lalu," kata Ben Rhodes.
Exolent
Hal. 246
๐ Catatan
โฅ
๐ก Inti Halaman Ini Buka / Tutup
Penulis menekankan pentingnya membuka pikiran sebelum berbicara, sebagaimana Obama yang sesibuk apa pun tetap meluangkan waktu untuk memahami topiknya, terutama sebelum pidato penting. Saat menyiapkan pidato penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian, ia membaca pidato para pemimpin masa perang serta tulisan Gandhi, Martin Luther King Jr., dan Reinhold Niebuhr, yang membuat Ben Rhodes menggambarkannya seperti bercakap-cakap dengan semua orang yang pernah membahas isu serupa.
๐Kosakata(0) Buka / Tutup
Belum ada kata yang ditandai. Aktifkan ikon stabilo (๐๏ธ) di navigasi bawah, lalu klik kata di teks bacaan!